Skip to main content

First Step; How its all started

“A journey of a thousand miles starts with a single step.” – Lao Tzu

Siapa sih yang gak suka jalan-jalan? Hidup semi nomaden sejak lulus SD, gue selalu menikmati setiap perjalanan dan suasana baru. Cuma ya apa sih yang bisa dicapai oleh seorang anak yang bisanya cuma minta duit emak sama bapaknya? Paling mentok mainan gue cuma Jatinangor, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Wonosobo, Dieng, ya situ-situ aja. Kalau yang agak jauhan paling mentok ya Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Bali, sama Manado. Itu juga harus mengharapkan belas kasih para orang dewasa yang mau ngajakin gue jalan. Abisan kadang gue lebih lemah kalau dihadapkan pada godaan tiket konser. Jadi ya rencana jalan-jalan terpaksa kembali tertunda.
Setelah lulus kuliah, akhirnya gue mendapatkan kesempatan buat main (sambil kerja) di beberapa daerah di Indonesia. Yang paling bikin excited sih jelas waktu gue harus ke Wamena, Jayawijaya (cerita kesini mungkin akan gue tulis kapan-kapan lol). Dari situ lah gue merasa kayaknya ini saatnya gue mulai traveling beneran deh. Apalagi setelah liat target di peta hidup yang katanya mau keliling Indonesia dan dunia. So, i guess it's the time.
Cita-cita terbesar gue dari kecil sebenernya adalah keliling dunia aka jalan-jalan keluar negeri. Tapi ada aja halangannya. Dan parahnya, gue gak punya paspor. Jadi waktu tahun lalu ada waktu, ya gue iseng aja bikin paspor. Gak tau juga kapan bisa perginya. Eh ternyata, hampir setahun berikutnya, setelah kerja rodi sampe ke Jayawijaya, akhirnya gue punya cukup uang untuk ya, sekedar menapakkan kaki ke daerah lain. Setelah nyari temen, akhirnya ada juga yang mau jalan bareng! 
Rencananya kita bakal pergi di awal tahun 2017. Setelah diskusi singkat, kita memutuskan buat jalan ke Kalimantan aja. Kebetulan dari semua pulau besar di Indonesia, dia cuma belum pernah ke Papua sama Kalimantan. Sedangkan gue belum pernah ke Sumatera dan Kalimantan. Karena irisannya Kalimantan, maka dialah yang dipilih sebagai tujuan kita. Tapi setelah mempertimbangkan ongkos, akomodasi dan lain sebagainya, tujuan beralih ke Lampung. Nyaris beli tiket pesawat Jakarta-Lampung, setelah ngobrol-ngobrol lagi akhirnya malah berubah haluan jadi ke negara asia tenggara aja deh (iya, mohon maklum emang kita mah suka galau dan mudah tergoda).

First Step (guys ini bukan judul album CNBLUE ok?)
Kalau rata-rata orang Indonesia traveling ke luar negerinya pertama kali ke Malaysia atau Singapura, gue... ya ke Malayasia juga (muahahaha kesel gak sama gue). Tapi habis itu kita lanjut lagi ke Kamboja! Pada tau Kamboja gak nih? Bikos ternyata emak gue gak tau juga Kamboja atau yang kalo biasa disebut orang bule mah Cambodia. Dikiranya Kamboja adalah bagian dari Vietnam. Well, emang sebelahan sih. Tapi kan beda negara. Kalau masih gak kebayang dimana, go google them up! Nah, beginilah cara kita mengeliminasi negara mana yang harus dikunjungi:
  1. Thailand atau Vietnam were just too mainstream. Kita mikirnya, kalau Thailand atau Vietnam tuh nanti suatu saat mungkin banget liburan atau dinas kesana. Lagian ke Bangkok atau Ha Long Bay lebih gampang cari partner jalannya, to put it short, Thai atau Viet bisa kapan-kapan.
  2. Malaysia dan Singapura gak usah dijadiin tujuan beneran. Kesananya sekalian aja kalau pas transit naik Air Asia atau JetStar (tho 6 bulan kemudian gue melanggar rencana ini).
  3. Filipina dan Brunei seketika dicoret dari daftar karena tiket pesawatnya gak masuk budget.
  4. Sisanya tinggal Laos, Myanmar, dan Kamboja. Dari ketiga negara ini, gosipnya paling gampang ke Kamboja. Selain itu di Kamboja ada Angkor Wat yang walaupun candi-candi juga kayak Borobudur atau Prambanan, tapi mengingat waktu persiapan yang singkat, jadi setidaknya kita udah punya tujuan yang pasti. Sedangkan kalau Laos sama Myanmar, we had no idea banget mau ngapain dan kemana. Udah gitu setelah browsing akomodasi, harga kamar di Siem Reap, tempat Angkor Wat berada, harganya juga cukup terjangkau.
Setelah mengeleminasi, masih ada beberapa pertimbangan lain. Alasan paling mendasar dari semua ini adalah gue males ke daerah yang terlalu mainstream. Males aja sih cerita liburannya gak unik (muahahaha ngeselin banget gue najis). Lagi pula kita adalah tipe yang suka jalan kemana aja selama ada orang. Karena deep inside, kita percaya kalau kemana pun kita pergi, pengalaman yang didapat setiap individu belum tentu sama. Apalagi sebenernya gue dan partner jalan gue kali ini adalah tipe yang people-person. Jadi mostly yang akan menarik perhatian kita bukan cuma sekedar spot foto atau pemandangan indah (itu juga perlu sih demi eksistensi diri lol ketauan banci sosmed), tapi lebih banyak ke perilaku orang-orang. Bingung gak? Biar gak bingung baca postingan gue selanjutnya aja makanya hahahaha. Dan yang paling penting dari semua itu yang perlu dipertimbangkan adalah waktu dan budget.
Kesimpulannya, Kamboja jelas masuk budget, bisa dikunjungi dalam waktu sempit, dan udah cukup terkenal (siapa sih yang gak tau Angkor Wat) tapi masih jarang dikunjungi orang Indonesia. Jadi walaupun cukup touristy, kita masih dapet sedikit 'eksotis'nya.
SO, CAMBODIA, WAIT FOR US!

Nah, karena tiket paling murah ke Siem Reap di tanggal yang kita mau adalah Air Asia punya, dan berdasarkan pada pertimbangan nomor 3 di atas, maka sekalian deh mampir ke KL. Itinerary kita sederhana banget:
Day 1: JKT-KL, terus main dan nginep di KL semalem
Day 2: KL-REP, jalan-jalan malem di Siem Reap
Day 3: ke Angkor Wat seharian sampai mabok, terus jalan lagi malemnya
Day 4: jalan-jalan pagi sampe lunch, REP-KL, langsung KL-JKT.
Dan akhirnya, dengan persiapan super seadanya dan jadwal yang kebanyakan 'ya udahlah paling ujung-ujungnya kita jalan-jalan aja', kita berangkat!

And true tho, the first step makes you want to keep walking.

Comments