Skip to main content

A Glimpse of Philippines

Hi all!
Ketemu lagi sama gue. Lagi-lagi gue mau cerita panjang lebar tinggi tentang traveling. Kalau kalian expect gue akan ngelanjutin cerita tentang Siem Reap, sayang sekali gue harus bikin kalian kecewa karena gue akan membahas Filipina kali ini. Cerita Siem Reap-nya mungkin kapan-kapan ya.. 😀

Why Philippines?
Sumpah tadinya sama sekali gak kepikiran mau ke Filipina, karena:
1. Tiketnya mahal (sumpah tiket pp kesana tuh lebih mahal daripada ke Hongkong)
2. Takut mati ditembak Duterte (salahin pemberitaan media soal sniper yg ngebunuhin pengedar narkoba)
3. Masih gak tau harus kemana kalo ke Filipina
Nah, jadi kenapa tiba-tiba malah jadinya ke sana? Kadang gue emang suka labil aja sih, tapi kemudian ini lah 'alasan'nya memilih Filipina.
1. Ada tiket promo muahahahaha iya emang anaknya mure
2. Waktu travelingnya singkat jadi gak mungkin kalau keliling Indochina seperti rencana awal
3. Orang Filipina jago banget bahasa Inggris jadi kesempatan ngebolang lebih tinggi
4. Kalo gak dapet promo kali ini kapan lagi? (padahal ternyata per 2018 AirAsia buka direct flight JKT-MNL sht)
Maka akhirnya beli deh itu tiket promo. Duit gue waktu itu cuma mampu buat beli tiket pesawat, jadi pas beli tiket gue udah bilang ke travel partner gue aka Chalau, mungkin gue gak bisa berangkat karena gak punya duit lol so sad. Tapi akhirnya setelah kegalauan punya duit apa gak dan too much dram di kantor, gue pun berangkat juga ke Filipina.

Where to go?
Kalau kalian mikir gue ke Filipina itu ke Cebu atau Palawan atau Puerto Princesa, lagi-lagi kalian harus kecewa karena gue cuma ke Manila dan Bataan (mana lagi tuh Bataan). Jujur gue muak orang nanya 'loh kok Manila bukan Cebu? emang liat apa di Manila?'. Tapi kalau kalian juga baca postingan gue tentang KL dan Siem Reap kalian mungkin bisa nebak alasannya.
Anyway, itinerary gue kali ini adalah:
Day 1: JKT-MNL (transit KL yang cuma 1h40m), hotel check in, SM MOA
Day 2: Manila-Bataan, heritage tour di Las Casas Filipina de Acuzar, bersantai
Day 3: Bataan-Manila, hotel check in, jalan-jalan sore di Manila (Greenbelt Mall)
Day 4: Rizal Park, Intramuros, Golden Mosque, MNL-JKT (kali ini pesawatnya direct).
Ok sebenernya itinerary kita udah ganti kayak sejuta kali. Yang gue tulis di atas adalah apa yang kemudian sesungguhnya terjadi. 
Nah untuk menjawab 'liat apa sih disana?' berikut ulasan singkat tempat-tempat tersebut.

1. SM MOA 
SM Mall of Asia atau yang biasa disingkat dengan SM MOA adalah salah satu mall paling besar di Asia yang dibangun di pinggir pantai, tepatnya di Manila Bay. Gak cuma pusat perbelanjaan, di komplek mall itu juga ada banyak tempat hiburan, live stages, dan lain sebagainya. Bahkan waktu kita disana, tempat pukul 19.00, ada pertunjukan kembang api. Pertunjukan ini (kayaknya) paling bagus dilihat dari bianglala yang juga ada di dalam komplek SM MOA (jangan salah ya, karena di Star City juga ada bianglala).

2. Las Casas Filipina de Acuzar

Sebuah resort milik seorang arsitek bernama Pak Acuzar yang isinya adalah bangunan-bangunan bersejarah di Filipina. Jadi si Pak Acuzar ini gue rasa kebanyakan duit dan memutuskan untuk membuang duitnya dengan cara beli tanah ratusan hektar di kampung bernama Bagac, Bataan yang kemudian diisi dengan barang koleksinya, yaitu bangunan bersejarah. Pak Acuzar beli tuh bangun-bangunan bersejarah yang emang kebanyakan udah gak terawat atau bahkan mau dihancurkan. Setelah dibeli, bangunan-bangunan tadi dipindahin ke Las Casas ini. Kenapa gue bilang dipindahin, karena bangunannya beneran dipretelin terus kemudian disusun lagi sesuai aslinya di Las Casas. Jadi bisa dibilang bangunan-bangunan di Las Casas ini hampir asli. Kalau kata mba-mba tour guide nya (di Las Casas ini yang terkenal emang heritage tour-nya, jadi lo keliling bangunan bersejarah disana sambil diceritain sama tour guide nya tentang cerita bangunan-bangunan itu), 40-60 persen bangunan-bangunan itu asli karena gak cuma dibangun lagi sesuai aslinya, tapi kayu dari bangunan lama pun ikut dipakai. Lokasinya sendiri di Bagac, kalau naik kendaraan umum ya sekitar 3-4 jam.

3. Greenbelt Mall
Nah karena gue nginepnya selalu di Manila yang kayaknya adalah pusat pemerintahan dan tempat banyak landmark, jadi gue merasa harus mengunjungi daerah Makati yang merupakan pusat bisnis. Akhirnya kita pun ke Greenbelt yang merupakan sebuah mall di daerah Makati. Sumpah ini mall luasnya banget-banget. Kalau PIM ada dari 1-3, Greenbelt udah sampai 5 saudara-saudara. Konsepnya mall pun lebih terbuka kayak PVJ gitu. Di tengahnya ada taman dan pas gue kesana hari minggu, ada kayak misa gitu. Gue gak tau itu tengahnya emang difungsikan sebagai gereja juga apa kebetulan aja ada kayak tablig akbar gitu. Tapi yang agak bikin bingung karena minim mall directory.

4. Rizal Park
Dr. Jose Rizal is Philippines' National Hero. Nah taman dan monumen ini emang dibangun untuk mengenang jasa beliau yang membangkitkan semangat rakyat Filipina melawan penjajahan Spanyol. Di salah satu sudut tempat ini adalah tempat beliau dieksekusi. Tamannya lumayan luas dengan hiasanya lampu-lampu dan kolam. Mungkin bisa dibilang semacam taman kota. Masuknya gratis, tapi di dalamnya ada Japanese Garden dan Chinese Garden yang kalau mau masuk bayar. Oh iya yang mau keliling tamannya tapi males capek, ada kereta wisata gitu yang bisa dinaikin. Buat naik kereta ini kita cuma perlu ngeluari uang 50PHP/orang atau sekitar 15K IDR saja. 

5. Intramuros
Semacam kota tua kalau di Indonesia, Intramuros atau yang secara harfiah artinya 'dalam dinding', dulunya adalah kota tua Manila. Di dalamnya banyak bangunan tua bersejarah. Dua yang paling terkenal adalah Fort Santiago dan Manila Cathedral. Tapi tenang aja guys, kalau dibandingin sama kota tua, Intramuros ini jauh lebih terawat dan bersih. Isinya juga banyakan tursinya kok. Masuk ke Intramurosnya sendiri sih gratis. Tapi masuk ke Fort Santiago atau tempat-tempat lain suka ada yang bayar. Tapi gak mahal kok cuma sekitar 50-100PHP atau 15K-30K IDR aja.

6. Golden Mosque
ngefotonya dari dalem resto lol
Nah salah satu tempat yang menurut gue harus dikunjungi setiap pergi ke suatu tempat adalah masjid. Seperti yang kita tau, Filipina mayoritas penduduknya beragama Katolik. Jadi pergi ke komunitas muslim di sudut kota adalah kewajiban. Masjidnya ada di tengah daerah padat penduduk yang lebih keliatan kayak pasar buat gue. Sayang banget tempatnya kotor. Tapi banyak diantara penduduk sekitar yang bisa bahasa Indonesia atau mungkin lebih kepada bahasa Melayu kali ya. Gue sih curiganya mereka emang orang atau keturunan Mindanao, daerah di Filipina Selatan yang mayoritas penduduknya muslim. Nah daerah ini emang deket banget sama pulau kalimantan.

Expenses
Pengeluaran gue kalau lagi begini emang gak terlalu banyak tapi juga gak murah juga huhuhuhu rip my saving. Gue pribadi baik pas ke KL-Siem Reap maupun ke Manila ini gue sengaja nge-budget 5jt IDR all in. Dan hamdalah selalu berhasil. Kasarnya gini sih itungannya:
Pesawat PP: 1,7jt
Hotel: 1,5jt
Makan + transport: 1jt
Sisanya buat yang lain-lain kayak masuk tempat wisata, ngasih tip dan oleh-oleh. 
Sebenernya kalau mau lebih hemat lagi gue bisa aja kemana-mana naik transportasi massa gitu. Tapi Manila jalannya bikin bingung dan jeepney (angkot khas Filipina) tuh gak punya halte. Gue gak tau dimana mesti bilang stop. Jadilah gue bergantung sama Grab. Selain udah pasti nyampe, tarifnya juga flat jadi aman menembus kemacetan Manila dan relatif lebih cepet daripada naik jeepney. Gue gak berani naik taxi gara-gara banyak cerita taxi Manila mahalnya kayak mau ngerampok orang aja. Oh iya Manila punya MRT dan LRT sih, tapi stasiunnya kurang strategis sama daerah yang gue kunjungin jadi ya balik ke Grab deh. Buat makan dan barang-barang lain, gue merasa di Filipina harganya relatif lebih murah. Apa Jakarta aja yang udah mulai kemahalan? 
Tapi overall selain modal tiket pesawat dan paspor, kalian gak akan ngerasa bedanya hidup di Jakarta sama di Manila.

Ok deh, gitu dulu sekilas tentang main Filipina-nya. Cerita lebih lengkap nantikan postingan selanjutnya ya. Salamat!


Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Kereta, dan Kota: Keliling Hiroshima dari Cafe Hipster ke Suburb Adem

Sebelumnya, izinkan gue berterima kasih ke Pemerintah Jepang yang udah serius menangani isu overtourism di Tokyo, Osaka, dan Kyoto lewat promo tiket domestik untuk turis mancanegara. Jujur, ini program yang super efektif—setidaknya buat kami, AA Project (alias gue dan Icha). Bayangin, dengan harga tiket Jakarta–Tokyo PP, kami dapat bonus tiket pesawat Tokyo–Fukuoka dan Hiroshima–Tokyo. Kalau beli sendiri, totalnya bisa nyampe 4 juta rupiah. Buat kaum mendang-mending kayak kami? Untung banget! Dari promo ini, gue akhirnya ketemu cinta baru: Hiroshima . Nama yang akrab di telinga, tapi asing juga—karena dia nggak seterkenal Tokyo atau Kyoto yang berseliweran di linimasa medsos. Ke Hiroshima ini rasanya kayak jatuh cinta sama temen masa kecil: awalnya awkward , tapi pas ngobrol sedikit, langsung klik. Duh, ketawa banget sama analoginya. Waktu nyusun itinerary , agenda utama gue tuh cuma nyicip okonomiyaki Hiroshima , yang katanya lebih enak daripada versi Osaka. Tapi terny...

Menantang Maut di Jalanan Bangkok

Negara ASEAN dan sepeda motor pada dasarnya adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Makanya kalau traveling ke negara tetangga kayak Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam sekalipun, pemandangan sepeda motor yang asal nyelip di jalanan jadi biasa aja karena sejujurnya kelakuan para pengendaranya emang mirip-mirip. Waktu ke Ho Chi Mihn di 2019 lalu, motor-motor ini juga salah satu yang paling meresahkan karena suka muncul tiba-tiba kalau kita mau nyebrang atau ya mereka simply ngaco aja nyetirnya. Fenomena sen kanan belok kiri juga ada banget. Belum lagi helm yang mereka pake kayaknya jauh banget dari standar keamanan bikin gue makin degdegan. Sayangnya sampai akhir trip kita juga nggak berhasil mengumpulkan keberanian buat naik ojek Vietnam, jadi ya udah kita foto candid aja sama abangnya. Abang Go-Viet <3 Lain Vietnam, lain Thailand. Dulu banget gue pernah denger senior di kampus ada yang bilang, kalau lo berhasil menaklukkan jalanan Bangkok, berarti lo akan bisa menaklukkan jalanan mana...