Sebelumnya, izinkan gue berterima kasih ke Pemerintah Jepang yang udah serius menangani isu overtourism di Tokyo, Osaka, dan Kyoto lewat promo tiket domestik untuk turis mancanegara. Jujur, ini program yang super efektif—setidaknya buat kami, AA Project (alias gue dan Icha). Bayangin, dengan harga tiket Jakarta–Tokyo PP, kami dapat bonus tiket pesawat Tokyo–Fukuoka dan Hiroshima–Tokyo. Kalau beli sendiri, totalnya bisa nyampe 4 juta rupiah. Buat kaum mendang-mending kayak kami? Untung banget!
Dari promo ini, gue akhirnya ketemu cinta baru: Hiroshima. Nama yang akrab di telinga, tapi asing juga—karena dia nggak seterkenal Tokyo atau Kyoto yang berseliweran di linimasa medsos. Ke Hiroshima ini rasanya kayak jatuh cinta sama temen masa kecil: awalnya awkward, tapi pas ngobrol sedikit, langsung klik. Duh, ketawa banget sama analoginya.
Waktu nyusun itinerary, agenda utama gue tuh cuma nyicip okonomiyaki Hiroshima, yang katanya lebih enak daripada versi Osaka. Tapi ternyata, Hiroshima ngasih jauh lebih dari sekadar makanan. Kotanya cantik, tenang, dan surprisingly... hipster.
Ngopi Cantik & Jalan Santai di Kota Estetik
Ngopi emang jadi agenda harian di trip kami kali ini. Bedanya, kalau di Tokyo dan Fukuoka kami sering mampir ke coffee chain impor macam Blue Bottle atau Fuglen, di Hiroshima gue lumayan ngotot buat cari yang lokal.
Dan ternyata, Hiroshima penuh dengan roastery dan coffee lab kece, juga cafe estetik, terutama di sekitar Hiroshima Station. Dua spot yang kami cobain:
1. Musimpanen 🍰🍹
Awalnya sih tertarik karena namanya unik. Tapi pas lihat review di Google, ternyata ratingnya tinggi dan masuk top list di Tabelog. Kami cobain dua kue: tea & raspberry cake (¥651) dan fig & chocolate mousse (¥672). Keduanya pas banget di lidah. Nggak terlalu manis, terus ada pahit dari teh dan cokelatnya. Gue pribadi suka yang teh karena rasanya lebih kompleks.
Catatan penting: setiap pengunjung wajib pesan minimal satu cake. Nggak pesan minum? Gak masalah, air putih disediakan gratis (seperti biasa di Jepang 😍).
2. Shimaji Coffee LAB. ☕
Tempatnya humble dan sangat Jepang. Semua proses roasting dan packaging mereka lakukan sendiri. Yang menarik lagi, baristanya kemarin perempuan semua. Sayangnya kami udah kenyang jadi nggak cobain cake sama cookies mereka. Kopinya oke lah, gue nyobain iced japanese sama latte-nya. Tapi entah kenapa, pada dasarnya buat gue kopi di Jepang tuh rasanya cenderung flat. Jadi white coffee is always a safe choice.
Kalau aja kapasitas perut dan waktu kami lebih longgar, rasanya pengen ngubek semua cafe di kota ini. Tapi setidaknya, bengong di pinggir sungai pun udah jadi healing tersendiri. Hiroshima punya walking track dan bangku-bangku nyaman sepanjang sungainya—perfect buat ngopi sambil mikirin sisa tabungan balik liburan di Jepang.
Miyajima & Peace Park: Si Bintang Iklan Pariwisata ⛩️
Siapa sih yang nggak pernah lihat foto torii merah ikonik berdiri di tengah laut? Yup, itu dia Itsukushima Shrine di Miyajima Island. Untuk ke sana, tinggal naik kereta dan lanjut ferry dari Hiroshima Station—sekitar satu jam total perjalanan.
Selain Itsukushima, pulau ini juga punya banyak tempat menarik buat dikunjungin. Kami bahkan sempat mampir ke Miyajima Public Aquarium dan main sama anjing laut! Jangan lupa cobain oyster halal enak di Yamaichi Bekkan (ada musola dan owner-nya super ramah) dan beli oleh-oleh khas Miyajima, Momiji Manju (walaupun gue tetep prefer shakushi senbei). Yamada Sweets Shop punya versi halalnya, ya!
Nah kalau ke Miyajima harus siap energi buat keliling pulau, ke Peace Park ini harus siap energi buat ngehadepin negative vibes-nya. Semua orang pasti tau Hiroshima sebagai salah satu kota yang dijatuhin bom atom waktu WWII. Di Peace Park ini lah semua terdokumentasi. Dan sebagai orang yang suka banget film dengan tema WWII, dateng ke museum ini jelas experience yang sangat emosional. Jujur sih pas lagi keliling ada banget pusing dan mualnya ngeliat dokumentasi pasca bom atom Hiroshima. Di saat hampir keseluruhan isi koleksinya dinarasikan dengan netral dan cenderung humanis, kami justru kesel sendiri karena sangsi sebagian besar pengunjung bule ini paham kalau tindakan keji lempar-lempar bom atom itu adalah kelakuan para leluhur mereka. Di bagian akhir museum baru deh keliatan narasi yang ‘nyalahin’ Barat. Ya udah lah siapa pun di dunia ini please ambil pelajaran kalau main-main bom atom sama sekali nggak lucu!.
Misi Utama: Hiroshima-style Okonomiyaki
Gue ini korban soft power Jepang lewat doramanya. Sejak nonton Proposal Daisakusen episode 5 dan liat scene Yoshida Rei & Iwase Ken marah karena okonomiyaki-nya bukan versi Hiroshima, gue jadi penasaran. Katanya okonomiyaki Hiroshima ini beda banget sama yang dari Osaka.
Karena versi halalnya susah dicari, kami akhirnya memilih ikut kelas masak okonomiyaki di OKOSTA (Okonomiyaki Workshop-Studio). Di situ kita bisa pilih kelas untuk okonomiyaki halal dan berbahasa Inggris. Sensei dan dua asistennya itu sabar banget ngajarin step-by-step-nya. Ternyata, yang beda dari okonomiyaki Hiroshima ini adalah proses bikinnya yang per layer dan pakai mie soba di dalamnya. Seru, edukatif, dan... kenyang banget! Worth every yen.
Keliling Kota dengan Tram dan Transportasi Umum 🚋
Kalau di Tokyo kita biasa naik kereta atau bus, di Hiroshima mainannya tram alias Hiroden. Katanya sih ini tram dengan jalur terpanjang dan penggunaan tertinggi di Jepang. Kami naik tram dari pelabuhan Miyajima ke pusat kota cuma ¥240. Murah dan nostalgic.
Selain tram, ada juga bus wisata dari Hiroshima Station yang bisa bawa kamu keliling ke spot ikonik kayak Peace Park, Hiroshima Castle, dll, lengkap dengan penjelasan setiap destinasinya. Dan karena kami datang dari Fukuoka, kami juga sempat naik Hello Kitty Shinkansen (Fukuoka - Shin-Osaka via Hiroshima). Super gemes, super mahal, tapi super worth it. (Kami sampai harus nginep di capsule hotel karena tiketnya mahal dan pagi banget! 😅)
Mampir ke Saijo: Suburb Manis yang Bikin Betah 🍁
Kalau ada yang nanya, “Kok ke Jepang lagi?”, jawaban sakti kami, “Mau ke rumah temen.” Terima kasih sobat AA Project yang udah pindah ke Saijo, kota kecil satu jam dari Hiroshima yang vibes-nya kayak desa di dorama Jepang.
Jalanan sepi, banyak landed house dengan halaman luas, tapi kebutuhan dasar lengkap banget. Saijo ini juga cukup internasional (kami ketemu banyak WNA), mungkin karena deket salah satu kampus Hiroshima University.
Dari Tokyo – Fukuoka – Hiroshima – Saijo, ini kayak transisi dari ibukota ke kampung halaman. Di sini kami bangun siang, ngopi di taman, antre bagel viral (iya, di Saijo ada!), main ke toko buku, makan sushi, dan belanja santai di supermarket. Jiwa slow living gue bener-bener dimanjain. Tapi apa daya, kami harus balik ke kota (baca: Yokohama), karena udah ditunggu abang Sungjin (cerita nonton Day6 di Yokohama kita sambung lain kali, ya 😎)
Tiga hari di Hiroshima rasanya kayak duduk di toilet Jepang: terlalu nyaman, jadi nggak pengen buru-buru keluar. Kota ini estetik, santai, hipster, tapi juga penuh makna dan cerita.
Meski belum banyak turis Indonesia yang ke sini, Hiroshima sangat ramah turis—dan layak banget dimasukin ke itinerary. Kalau ada rezeki balik ke sini, wishlist gue: mampir ke lebih banyak cafe lucu, dan lanjut ke Ehime via Kure. See you again, Hiroshima 💛
Comments
Post a Comment