Skip to main content

Lost and Found Edisi USJ

Mari mengawali postingan ini dengan disclaimer bahwa gue adalah makhluk ceroboh dan pindah negara tidak membuat kecerobohan gue berkurang. Ini berlaku untuk banyak hal, termasuk di dalamnya adalah perkara ponsel. Percaya nggak percaya, dalam 5 tahun terakhir gue udah ganti ponsel 3 kali dan 2 kali di antaranya disebabkan karena ponsel gue HILANG. Dalam episode kali ini, gue kehilangan ponsel gue di Universal Studio Jepang :)

Setelah menghabiskan 4 hari di Tokyo dan akhirnya pindah ke Osaka, agaknya badan gue mulai merasa lelah. Ditambah lagi udara musim gugur yang bikin gue si penghuni Jakarta ini selalu kedinginan setiap harus keluar apartemen jam 7 pagi. Suatu combo yang sempurna untuk gue yang memang dasarnya ceroboh ini untuk menjadi semakin nggak fokus.

Pertama kali menyadari ponsel gue nggak ada di tas maupun di kantong jaket dan celana adalah sekitar jam 09.00 pagi, saat gue dan 2 teman lainnya sudah menghabiskan lebih dari setengah jam mengantre ride bernama Hollywood Dream. Waktu itu USJ memang lagi ramai-ramainya, jadi posisinya kita ada di tengah-tengah antrean. Sebenarnya sih waktu liat ponsel gue udah nggak ke-connect ke smart watch, gue tahu kalau ponsel gue pasti hilang dan bukan sekedar keselip di tas yang isinya berantakan banget. Karena kalau keselip kan harusnya masih di dalam jangkauan bluetooth dan terkoneksi ke smart watch. Cuma menghitung waktu yang udah kita habiskan buat mengantre, kayaknya sayang banget kalau harus keluar antrean buat nyari ponsel yang awalnya gue juga nggak yakin ada dimana. Alhasil dengan sok tenang, gue cuma bilang "Ya udah lah nanti gue cari lagi," dan melanjutkan main ride-nya sampai selesai.

Selesai main, kita tanya dimana lokasi lost and found yang ternyata itu di depan deket pintu masuk. Kayak coyyyy bayangin deh sejauh apa jalan ke depan lagi sedangkan USJ udah semakin ramai yang artinya semua rides dan attraction yang kita pengen antreannya semakin panjang. Masalahnya adalah gue nggak punya ponsel lain yang artinya juga, kalau gue memisahkan diri buat jalan ke lost and found sendiri, gue akan berpisah sama rombongan gue. Ya kalau ponsel gue beneran ketemu di sana sih bagus. Kalau nggak? Pusing lagi gue nyari temen-temen gue. Sedangkan memaksa salah satu atau beberapa temen gue buat nemenin ke lost and found juga kayaknya gue nggak tega. Gue juga paham bahwa temen-temen gue kan ke USJ buat have fun bukan buat nyari ponsel hilang. Jadi kalau mereka harus merelakan waktunya buat nemenin gue kok kesannya gue nyusahin banget kan?

Ya udah lah akhirnya gue berusaha jalan sendiri ke lokasi dimana gue inget terakhir gue pegang ponsel gue, yaitu lokasi sekitar Harry Potter. Sayang seribu sayang area yang memang jadi favorit itu lagi penuh banget dan nanya ke petugasnya yang nggak bisa bahasa Inggris beneran nggak ngebantu sama sekali. Lagi-lagi kesimpulannya sama aja, silakan ke guest service (lost and found). 

Fun fact, waktu lagi ngobrol sama petugasnya kan dia nanyain soal ciri-ciri ponselnya yak. Setelah gue jelasin bahwa di ponsel gue ada sticker dan foto gue dia masih kayak bingung tuh. Akhirnya dia nanya mereknya. Dengan polosnya gue menjawab, "Xiaomi." Dan lo tau muka mbak petugasnya beneran bingung bahkan lebih bingung daripada pas gue jelasin soal sticker-sticker tadi. Tapi si tolol ini masih ngotot kayak, "Iya, Xiaomi, Redmi." Mbaknya tetep bingung tapi senyum. Lalu gue inget. Bro, ini kan Jepang yang hampir semua orang ponselnya minimal Iphone atau kalaupun android ya yang flagship gitu nggak sih... Lalu gue menyerah dan bilang, "Android." Terus mbaknya baru deh "Aaaah," kayak akhirnya dia mengerti. But then, "Like Samsung? What type?" Udah lah gue CAPEK.

Agaknya gue udah mulai pasrah justru mikirin segala kemungkinan yang akan terjadi seandainya gue nggak punya ponsel sampai kembali ke Jakarta. Atau haruskah gue merelakan tabungan gue lagi-lagi terkuras untuk beli ponsel di Jepang yang yakin banget akan ribet ngurusnya begitu sampai Indonesia. Dengan kepala penuh macam-macam ini, gue tetap memutuskan untuk lanjut naik beberapa rides dan attraction, karena prinsipnya tetap dan ogah rugi.

Lalu ilham datang padaku. Tiba-tiba gue kepikiran buat kontak temen gue di Jakarta via instagram dan meminta dia untuk buka laptop gue YANG KEBETULAN gue tinggal di kantor buat ngecek lokasi ponsel gue via google find my phone. Kenapa harus pake laptop di Jakarta? Karena sebelumnya gue udah coba buka google dari ponsel temen gue dan nggak bisa karena autentifikasinya ya harus dari ponsel gue yang hilang itu. Bodoh banget kan? Untungnya temen gue yang di Jakarta cepat tanggap (walaupun kemudian gue tau kalau mereka sempet curiga DM instagram itu adalah SCAM!!) dan ngasih tau kalau ponsel gue posisinya masih di area Harry Potter, tepat di posisi dimana gue inget terakhir megang ponsel itu. Denger informasi itu, ketegangan gue langsung turun 100%.

Dan lagi-lagi karena posisinya di tengah antrean ride yang tentu saja nggak manusiawi itu, gue memutuskan tetep lanjut main sebelum nanti balik ke lokasi dimana  katanya ponsel gue berada. Balik kesana, ya tentu saja ponsel gue tidak ditemukan. Ketemu store manager-nya pun dia cuma bisa nanya gue kapan ninggalin si ponsel dan nanya beberapa pertanyaan basic lain. Ujungnya? Ya gue tetap diarahkan ke lost and found.  At this point gue tahu kalau itu memang SOP nya dan percuma juga gue bolak-balik nanya petugas di area permainan karena kalaupun ponsel gue ada sama mereka, mereka nggak berhak buat langsung kasihin ke gue. 

Duh, tapi jujur lost and found tuh jauh banget. Lemes lagi ngebayangin jalannya. Jadilah kita jajan butterbeer dulu. Segala pake gue dan temen gue berdebat perkara siapa yang tadi ngasih duit 10.000 JPY karena kita sama-sama nggak ada yang inget sisa uang di dompet berapa. Mind you, 10.000 JPY = 1.050.000 IDR. Ya pada akhirnya kita sepakat kalau itu duit gue. Emang dasar gue aja yang nggak fokus sama segala hal (cry!).

Pada akhirnya waktu sampai di lost and found, gue coba cek smart watch dan udah connected. Ok confirmed ya berarti emang udah ada di sini ponsel gue. Kata teman yang memantau dari Jakarta juga location-nya emang bener di situ. Dan YEAY!!! ITU DIA PONSELKU! Diserahkan ke gue bersama dengan gloves entah punya siapa yang gue inget banget emang udah teronggok di sebelah tempat gue duduk terakhir sambil pegang itu ponsel. Jadi bisa diduga emang ponsel gue jatuh waktu mau dimasukin ke tas.

Muka bahagia setelah menemukan ponselku 🙋

Btw mbak petugasnya baik banget dan super ramah (ofkors lah ini Jepang). Terus dia nanya, "Is it your first time?" Pas gue jawab iya, gue dikasih sticker USJ bahkan dikasihnya sejumlah anggota rombongan kita. I love Japan and their hospitality 💓 .  

Pelajaran hidup: kalau udah tau ceroboh, kita harus punya back up plan. Tenang dan mikirin solusi singkat juga WAJIB! Karena ya... menjadi tidak ceroboh jelas tidak mungkin :)


Comments

Popular posts from this blog

Kopi, Kereta, dan Kota: Keliling Hiroshima dari Cafe Hipster ke Suburb Adem

Sebelumnya, izinkan gue berterima kasih ke Pemerintah Jepang yang udah serius menangani isu overtourism di Tokyo, Osaka, dan Kyoto lewat promo tiket domestik untuk turis mancanegara. Jujur, ini program yang super efektif—setidaknya buat kami, AA Project (alias gue dan Icha). Bayangin, dengan harga tiket Jakarta–Tokyo PP, kami dapat bonus tiket pesawat Tokyo–Fukuoka dan Hiroshima–Tokyo. Kalau beli sendiri, totalnya bisa nyampe 4 juta rupiah. Buat kaum mendang-mending kayak kami? Untung banget! Dari promo ini, gue akhirnya ketemu cinta baru: Hiroshima . Nama yang akrab di telinga, tapi asing juga—karena dia nggak seterkenal Tokyo atau Kyoto yang berseliweran di linimasa medsos. Ke Hiroshima ini rasanya kayak jatuh cinta sama temen masa kecil: awalnya awkward , tapi pas ngobrol sedikit, langsung klik. Duh, ketawa banget sama analoginya. Waktu nyusun itinerary , agenda utama gue tuh cuma nyicip okonomiyaki Hiroshima , yang katanya lebih enak daripada versi Osaka. Tapi terny...

A Glimpse of Philippines

Hi all! Ketemu lagi sama gue. Lagi-lagi gue mau cerita panjang lebar tinggi tentang traveling. Kalau kalian expect gue akan ngelanjutin cerita tentang Siem Reap, sayang sekali gue harus bikin kalian kecewa karena gue akan membahas Filipina kali ini. Cerita Siem Reap-nya mungkin kapan-kapan ya.. 😀 Why Philippines? Sumpah tadinya sama sekali gak kepikiran mau ke Filipina, karena: 1. Tiketnya mahal (sumpah tiket pp kesana tuh lebih mahal daripada ke Hongkong) 2. Takut mati ditembak Duterte (salahin pemberitaan media soal sniper yg ngebunuhin pengedar narkoba) 3. Masih gak tau harus kemana kalo ke Filipina Nah, jadi kenapa tiba-tiba malah jadinya ke sana? Kadang gue emang suka labil aja sih, tapi kemudian ini lah 'alasan'nya memilih Filipina. 1. Ada tiket promo muahahahaha iya emang anaknya mure 2. Waktu travelingnya singkat jadi gak mungkin kalau keliling Indochina seperti rencana awal 3. Orang Filipina jago banget bahasa Inggris jadi kesempatan ngebolang...

Menantang Maut di Jalanan Bangkok

Negara ASEAN dan sepeda motor pada dasarnya adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Makanya kalau traveling ke negara tetangga kayak Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam sekalipun, pemandangan sepeda motor yang asal nyelip di jalanan jadi biasa aja karena sejujurnya kelakuan para pengendaranya emang mirip-mirip. Waktu ke Ho Chi Mihn di 2019 lalu, motor-motor ini juga salah satu yang paling meresahkan karena suka muncul tiba-tiba kalau kita mau nyebrang atau ya mereka simply ngaco aja nyetirnya. Fenomena sen kanan belok kiri juga ada banget. Belum lagi helm yang mereka pake kayaknya jauh banget dari standar keamanan bikin gue makin degdegan. Sayangnya sampai akhir trip kita juga nggak berhasil mengumpulkan keberanian buat naik ojek Vietnam, jadi ya udah kita foto candid aja sama abangnya. Abang Go-Viet <3 Lain Vietnam, lain Thailand. Dulu banget gue pernah denger senior di kampus ada yang bilang, kalau lo berhasil menaklukkan jalanan Bangkok, berarti lo akan bisa menaklukkan jalanan mana...